Contoh Surat Perjanjian Bagi Hasil Deposito Mudharabah



Contoh Surat Perjanjian Bagi Hasil Deposito Mudharabah. Sistem kerja sama bagi hasil dengan akad Mudharabah merupakan salah satu bentuk kerjasama yang dihalalkan dalam Islam. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas salah satu contoh penggunaan akad mudharabah dalam kerjasama investasi dalam bentuk deposito.

Contoh Surat Deposito Mudharabah

 

 

Deposito mudharabah merupakan salah satu produk dari perbankan syariah. Apa bedanya dengan Deposito pada bank konvensional dan Mengapa Deposito Mudharabah ini halal?. Perbedaan yang paling terlihat antara Deposito Konvensional dan Deposito Mudharabah adalah sistem pembagian keuntungan.

Jika pada Deposito Konvensional dikenal istilah BUNGA yang dihitung berdasarkan persentase dari dana yang ditempatkan/diinvestasikan. Sedangkan pada Deposito Syariah dengan akad Mudharabah pembagian hasil dihitung berdasarkan nisbah bagi hasil dari porsi pendapatan Pengelola Dana. Sebelum kita bahas lebih lanjut lagi, mari kita lihat dlu Contoh Surat Perjanjian Bagi Hasil Deposito Mudharabah berkut ini:
Jika pada sistem deposito konvensional bunga yang didapatkan Nasabah = bunga per tahun / 12 * nominal deposito. Jadi berapapun keuntungan/kerugian bank dalam mengelola dana Nasabah tidak mempengaruhi besarnya bunga yang akan diterima nasabah.Bank tetap berkewajiban memberikan bunga yang sudah pasti. Nah inilah yang membuat sistem deposito konvensional ini termasuk dalam golongan ribawi.

Pada Contoh Surat Perjanjian Bagi Hasil Deposito Mudharabah di atas terdapat beberapa komponen utama yaitu:
Pemilik Dana (Shahibul Maal) Pengelola Dana (Mudharib) Nominal Penempatan Dana Deposito Nisbah
Bagi Hasil Dari 4 komponen di atas mungkin hanya 1 yang terasa asing, yaitu nisbah.
Nisbah adalah perhitungan persentase bagi hasil untuk Shahibul Maal dan Mudharib yang disepakati pada saat awal perjanjian.

Pada contoh di atas Nasabah sebagai Shahibul Maal akan mendapatkan 47% sedangkan Bank sebagai Mudharib akan mendapatkan 53%. Artinya Nasabah akan menerima 47% dari pendapatan diterima oleh Bank dalam periode pelaporan (biasanya 1 bulan). Jadi pada akhir periode laporan bulanan, Bank akan menghitung berapa pendapatannya pada periode tersebut. Kemudian akan di porsikan sesuai dengan persentase Rata-rata Dana Pihak Ketiga yang ada pada Bank tersebut.

Setelah didapatkan porsi pendapatan untuk deposito, maka dihitung lagi porsi bagi hasil sesuai nominal deposito per nasabah. Baru setelah didapat anngkanya dibagikan 47% untuk Nasabah dan 53% untuk Bank. Dengan perhitungan di atas, maka nominal bagi hasil yang akan diterima nasabah akan berbeda-beda setiap bulannya, sangat bergantung dari pendapatan Bank tersebut.

So mari tinggalkan investasi ribawi, hijrahlah ke investasi syariah yang halal dan bebas riba.